https://e-journal.sari-mutiara.ac.id/index.php/Keperawatan/issue/feedJURNAL ONLINE KEPERAWATAN INDONESIA2025-12-09T09:10:49+07:00Nenny Elyani Br Gintingojs.usmindonesia19@gmail.comOpen Journal Systems<p>Jurnal Online Keperawatan Indonesia bertujuan untuk memudahkan interaksi, diskusi, dan selanjutnya memajukan gagasan dibidang keilmuan keperawatan khususnya mengenai kesehatan di bidang pendidikan dan non pendidikan pada tingkat nasional maupun tingkat Internasional. Jurnal Online Keperawatan Indonesia terbit 2 kali dalam satu tahun. Manuskrip dapat ditulis dalam bahasa Indonesia atau bahasa Inggris dengan menggunakan peraturan tata bahasa yang baik dan benar. Menulis manuskrip dalam bahasa Inggris umumnya berupa bentuk lampau. <strong>ISSN: 2621-2161 (media online) dan Terakreditasi <a href="https://sinta.kemdikbud.go.id/journals/profile/6466" target="_blank" rel="noopener">SINTA 5</a>.</strong></p>https://e-journal.sari-mutiara.ac.id/index.php/Keperawatan/article/view/6413HUBUNGAN ANTARA KARAKTERISTIK DEMOGRAFI DENGAN FREKUENSI KEKAMBUHAN PASIEN SKIZOFRENIA2025-11-24T09:40:18+07:00Hasmila Sarihasmilasari@usk.acidFarah Dineva Rfarah_dineva@usk.ac.idMartina Martinamartina@usk.ac.id<p><strong>Latar belakang</strong>: Kekambuhan merupakan hal yang sering dialami oleh pasien skizofrenia. Kekambuhan ini memiliki dampak terhadap fungsi individu dalam menjalankan aktivitas sehari-hari. Karakteristik demografi dapat menjadi faktor protektif atau faktor risiko terhadap kekambuhan. Karakteristik demografi tersebut merupakan hal yang tidak bisa dimodifikasi sehingga membutuhkan upaya atau dukungan internal dan eksternal pasien.</p> <p><strong>Tujuan: </strong>Mengetahui hubungan antara karakteristik demografi dengan frekuensi kekambuhan pada pasien skizofrenia yang dirawat di rumah sakit jiwa<strong>.</strong></p> <p><strong>Metode</strong>: Penelitian ini merupakan penelitian korelasi dengan pendekatan <em>cross-sectional</em>. Pengambilan sampel menggunakan teknik <em>purposive sampling</em> terhadap 389 rekam medis dengan kriteria diagnosis skizofrenia sesuai DSM-5, rawat inap setahun terakhir, dan riwayat masuk RS lebih dari satu kali. Alat pengumpul data adalah lembar <em>check-list</em> yang berisikan data karakteristik pasien. Hasil analisis disajikan dalam bentuk univariat dan analisa data dilakukan dengan uji bivariat <em>chi-square</em>.</p> <p><strong>Hasil</strong>: Karakteristik yang berhubungan dengan frekuensi kekambuhan pasien skizofrenia dalam 1 tahun terakhir adalah pekerjaan (OR=2,103) dan status perkawinan (OR=1,911).</p> <p><strong>Kesimpulan: </strong>Dua karakteristik demografi yang berhubungan dengan frekuensi kekambuhan pada penelitian ini adalah pekerjaan dan status perkawinan. Diharapkan rumah sakit dapat mengoptimalkan kegiatan rehabilitasi untuk meningkatkan keterampilan pasien dalam mengelola <em>living skill, working skill</em> dan <em>learning skill</em>. Status perkawinan adalah karakteristik yang tidak bisa diubah. Meskipun demikian, sumber dukungan tidak hanya berasal dari pasangan, namun juga dapat melibatkan anggota keluarga lainnya.</p>2025-12-08T00:00:00+07:00Copyright (c) 2025 Hasmila Sari, Farah Dineva R, Martinahttps://e-journal.sari-mutiara.ac.id/index.php/Keperawatan/article/view/6490SELF-EFFICACY PERAWAT INTENSIVE CARE DALAM MELAKUKAN PENILAIAN NYERI PADA PASIEN PENURUNAN KESADARAN2025-12-08T08:49:50+07:00Indah Dwi Andhiniindahdwia@upi.eduPopon Haryetipoponharyeti@upi.eduAyu Prameswari Kusuma Astutiayuastuti@upi.edu<p><strong>Latar belakang</strong>: Penilaian nyeri pada pasien dengan penurunan kesadaran merupakan komponen penting dalam asuhan keperawatan intensif, dan <em>self-efficacy</em> perawat berperan dalam menentukan keyakinan serta konsistensi mereka dalam melakukan penilaian tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran tingkat <em>self-efficacy</em> perawat <em>intensive care</em> dalam melakukan penilaian nyeri pada pasien dengan penurunan kesadaran.</p> <p><strong>Tujuan</strong>: Mengetahui gambaran tingkat <em>self-efficacy</em> perawat <em>intensive care</em> dalam melakukan penilaian nyeri pada pasien dengan penurunan kesadaran.</p> <p><strong>Metode</strong>: Deskriptif kuantitatif dengan teknik <em>total sampling</em> terhadap 68 perawat yang bekerja di ruang <em>intensive care</em>. Instrumen yang digunakan adalah kuesioner modifikasi <em>general self-efficacy scale</em> yang terdiri dari 16 pernyataan yang menilai tingkat keyakinan perawat dalam menghadapi tugas penilaian nyeri.</p> <p><strong>Hasil</strong>: Mayoritas perawat berada pada kategori <em>self-efficacy</em> sedang (<em>mean</em> 47,53), baik pada skor total maupun seluruh dimensi.</p> <p><strong>Kesimpulan: </strong>Temuan ini mengindikasikan bahwa perawat memiliki keyakinan diri yang cukup baik dalam melakukan penilaian nyeri pada pasien dengan penurunan kesadaran, namun tetap memerlukan penguatan melalui pelatihan serta pembinaan berkelanjutan agar akurasi dan konsistensi praktik penilaian nyeri dapat meningkat secara optimal.</p>2025-12-12T00:00:00+07:00Copyright (c) 2025 Indah Dwi Andhini, Popon Haryeti, Ayu Prameswari Kusuma Astutihttps://e-journal.sari-mutiara.ac.id/index.php/Keperawatan/article/view/6416ANALISIS DETERMINAN KARAKTERISTIK KADER TERHADAP EFIKASI DIRI DALAM UPAYA EDUKASI PIJAT BAYI2025-12-08T12:00:08+07:00Sri Intan Rahayuningsihsriintan@usk.ac.idSri Agustinasri.agustina@usk.ac.id<p><strong>Latar belakang</strong>: Kader sebagai tokoh terpilih, memiliki peran penting melaksanakan edukasi pijat bayi sebagai upaya preventif. Kader perlu memiliki efikasi diri yang tinggi untuk mampu mencapai tujuan dan menghadapi berbagai hambatan dalam tugasnya. Karakteristik yang dimiliki kader dapat mempengaruhi efikasi diri dan berpotensi menjadi pendorong yang akan memperkuat peran kader. </p> <p><strong>Tujuan</strong>: untuk mendeterminasi karakteristik dan efikasi kader, serta mencari faktor mana yang paling besar mempengaruhinya..</p> <p><strong>Metode</strong>: Desain penelitian ini menggunakan observasional analitik dengan pendekatan <em>cross sectional</em>. Populasi dalam penelitian ini adalah kader kesehatan di wilayah kerja Puskesmas di Aceh Besar. Sampel penelitian sesuai kriteria inklusi sebanyak 37 orang. menggunakan <em>purposive sampling</em>. Pengumpulan data menggunakan kuesioner dan data dianalisis dengan analisis multivariat regresi logistik.</p> <p><strong>Hasil</strong>: Karakteristik usia (OR= 0,606), pendidikan (OR=2,110), dan riwayat pelatihan pijat bayi (OR=4,020) merupakan faktor yang mempengaruhi efikasi diri kader dalam upaya edukasi pijat bayi. Riwayat pelatihan pijat bayi merupakan faktor prediktor efikasi diri dengan odds rasio tertinggi.</p> <p><strong>Kesimpulan: </strong>Karakteristik yang tertinggi pengaruhnya sebesar empat kali terhadap efikasi diri adalah pengalaman pelatihan pijat bayi. Oleh karena itu untuk meningkatkan efikasi diri kader maka perlu diberikan pelatihan yang tepat.</p> <p> </p>2025-12-15T00:00:00+07:00Copyright (c) 2025 Sri Intan Rahayuningsih , Sri Agustinahttps://e-journal.sari-mutiara.ac.id/index.php/Keperawatan/article/view/6519EFFECTIVENESS OF SLOW STROKE BACK MASSAGE ON FATIGUE OF HEMODIALYSIS PATIENTS AT RSAU DR. M. SALAMUN BANDUNG IN 20242025-12-09T09:10:49+07:00Syahwaludin DAdedenakbar35@gmail.comRamadhan Adedenakbar35@gmail.comMuhtadin Mdedenakbar35@gmail.comPitono A.Jdedenakbar35@gmail.comTohri Tdedenakbar35@gmail.com<p><strong>Background</strong>: Chronic Kidney Disease (CKD) involves the gradual deterioration of renal function, resulting in the accumulation of metabolic waste and excess fluids, known as uremia. Hemodialysis serves as a renal replacement therapy that cleanses the blood by passing through an artificial kidney (dialyzer), eliminating toxins and surplus fluid through the processes of diffusion and ultrafiltration. Persistent tiredness among patients undergoing hemodialysis typically stems from treatment-related complications such as minor blood loss, resulting anemia, and ongoing uremic toxin retention.</p> <p><strong>Research Objectives</strong>: To determine the effectiveness of SSBM on fatigue of HD patients.</p> <p><strong>Research</strong> <strong>Method</strong>: : this research is quantitative research. Using pre-experimental pre-test post-test research with one group design. The sampling technique obtained by total sampling with a total of 40 male respondents. Using the Wilcoxon test to determine differences before and after intervention..</p> <p><strong>Result</strong>: The results of this study using the Wilcoxon test showed a p-value <0.001.</p> <p style="font-weight: 400;"><strong>Conclusion: </strong>There is a difference in fatigue scores before and after SSBM intervention</p>2025-12-16T00:00:00+07:00Copyright (c) 2025 Syahwaludin DA, Ramadhan A, Muhtadin M, Pitono A.J, Tohri Thttps://e-journal.sari-mutiara.ac.id/index.php/Keperawatan/article/view/6367HUBUNGAN INTENSITAS & UNSUR PENGGUNAAN MEDIA SOSIAL DENGAN KECERDASAN EMOSIONAL REMAJA DI SMP SANTO BELLARMINUS BEKASI2025-11-24T09:41:56+07:00Marbella Valemouren Saegaertmarbellasaegaert3001@gmail.comElisabeth Isti Daryatielisabethdaryati@gmail.comJesika Pasaribuelisabethdaryati@gmail.com<p><strong>Latar Belakang:</strong> Media sosial kini menjadi wadah utama bagi remaja dalam berkomunikasi dan mencari hiburan. Namun, penggunaan yang berlebihan berpotensi memengaruhi perkembangan kecerdasan emosional mereka. Kecerdasan emosional sendiri memiliki peran penting dalam kemampuan individu untuk mengenali, mengelola, serta mengekspresikan emosi secara tepat, sekaligus membangun relasi sosial yang sehat.</p> <p><strong>Tujuan:</strong> Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara intensitas dan unsur penggunaan media sosial dengan kecerdasan emosional pada remaja.</p> <p><strong>Metode:</strong> Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan rancangan deskriptif korelasi dan metode <em>cross-sectional</em>. Sampel penelitian berjumlah 135 siswa kelas VIII dan IX yang ditentukan melalui teknik <em>total sampling</em>. Instrumen yang digunakan meliputi kuesioner kecerdasan emosional (33 item), intensitas penggunaan media sosial (5 item), dan unsur penggunaan media sosial (7 item) yang telah diuji validitas serta reliabilitasnya. Analisis data dilakukan menggunakan uji Kendall’s tau-c.</p> <p><strong>Hasil:</strong> Sebagian besar responden memiliki intensitas penggunaan media sosial yang sering (68,1%), unsur penggunaan media sosial tergolong baik (64,4%), dan tingkat kecerdasan emosional sedang (61,5%). Terdapat hubungan bermakna antara intensitas penggunaan media sosial (p=0,035) dan unsur penggunaan media sosial (p=0,018) dengan kecerdasan emosional.</p> <p><strong>Kesimpulan:</strong> Intensitas dan kualitas penggunaan media sosial berpengaruh terhadap kecerdasan emosional remaja. Penggunaan yang bijak dan terarah dapat mendukung perkembangan emosional, sedangkan penggunaan berlebihan berpotensi menimbulkan dampak negatif.</p>2025-12-16T00:00:00+07:00Copyright (c) 2025 Marbella Valemouren Saegaert, Elisabeth Isti Daryati, Jesika Pasaribu