https://e-journal.sari-mutiara.ac.id/index.php/Keperawatan/issue/feedJURNAL ONLINE KEPERAWATAN INDONESIA2026-02-11T13:24:47+07:00Nenny Elyani Br Gintingojs.usmindonesia19@gmail.comOpen Journal Systems<p>Jurnal Online Keperawatan Indonesia bertujuan untuk memudahkan interaksi, diskusi, dan selanjutnya memajukan gagasan dibidang keilmuan keperawatan khususnya mengenai kesehatan di bidang pendidikan dan non pendidikan pada tingkat nasional maupun tingkat Internasional. Jurnal Online Keperawatan Indonesia terbit 2 kali dalam satu tahun. Manuskrip dapat ditulis dalam bahasa Indonesia atau bahasa Inggris dengan menggunakan peraturan tata bahasa yang baik dan benar. Menulis manuskrip dalam bahasa Inggris umumnya berupa bentuk lampau. <strong>ISSN: 2621-2161 (media online) dan Terakreditasi <a href="https://sinta.kemdikbud.go.id/journals/profile/6466" target="_blank" rel="noopener">SINTA 5</a>.</strong></p>https://e-journal.sari-mutiara.ac.id/index.php/Keperawatan/article/view/6413HUBUNGAN ANTARA KARAKTERISTIK DEMOGRAFI DENGAN FREKUENSI KEKAMBUHAN PASIEN SKIZOFRENIA2025-11-24T09:40:18+07:00Hasmila Sarihasmilasari@usk.acidFarah Dineva Rfarah_dineva@usk.ac.idMartina Martinamartina@usk.ac.id<p><strong>Latar belakang</strong>: Kekambuhan merupakan hal yang sering dialami oleh pasien skizofrenia. Kekambuhan ini memiliki dampak terhadap fungsi individu dalam menjalankan aktivitas sehari-hari. Karakteristik demografi dapat menjadi faktor protektif atau faktor risiko terhadap kekambuhan. Karakteristik demografi tersebut merupakan hal yang tidak bisa dimodifikasi sehingga membutuhkan upaya atau dukungan internal dan eksternal pasien.</p> <p><strong>Tujuan: </strong>Mengetahui hubungan antara karakteristik demografi dengan frekuensi kekambuhan pada pasien skizofrenia yang dirawat di rumah sakit jiwa<strong>.</strong></p> <p><strong>Metode</strong>: Penelitian ini merupakan penelitian korelasi dengan pendekatan <em>cross-sectional</em>. Pengambilan sampel menggunakan teknik <em>purposive sampling</em> terhadap 389 rekam medis dengan kriteria diagnosis skizofrenia sesuai DSM-5, rawat inap setahun terakhir, dan riwayat masuk RS lebih dari satu kali. Alat pengumpul data adalah lembar <em>check-list</em> yang berisikan data karakteristik pasien. Hasil analisis disajikan dalam bentuk univariat dan analisa data dilakukan dengan uji bivariat <em>chi-square</em>.</p> <p><strong>Hasil</strong>: Karakteristik yang berhubungan dengan frekuensi kekambuhan pasien skizofrenia dalam 1 tahun terakhir adalah pekerjaan (OR=2,103) dan status perkawinan (OR=1,911).</p> <p><strong>Kesimpulan: </strong>Dua karakteristik demografi yang berhubungan dengan frekuensi kekambuhan pada penelitian ini adalah pekerjaan dan status perkawinan. Diharapkan rumah sakit dapat mengoptimalkan kegiatan rehabilitasi untuk meningkatkan keterampilan pasien dalam mengelola <em>living skill, working skill</em> dan <em>learning skill</em>. Status perkawinan adalah karakteristik yang tidak bisa diubah. Meskipun demikian, sumber dukungan tidak hanya berasal dari pasangan, namun juga dapat melibatkan anggota keluarga lainnya.</p>2025-12-08T00:00:00+07:00Copyright (c) 2025 Hasmila Sari, Farah Dineva R, Martinahttps://e-journal.sari-mutiara.ac.id/index.php/Keperawatan/article/view/6490SELF-EFFICACY PERAWAT INTENSIVE CARE DALAM MELAKUKAN PENILAIAN NYERI PADA PASIEN PENURUNAN KESADARAN2025-12-08T08:49:50+07:00Indah Dwi Andhiniindahdwia@upi.eduPopon Haryetipoponharyeti@upi.eduAyu Prameswari Kusuma Astutiayuastuti@upi.edu<p><strong>Latar belakang</strong>: Penilaian nyeri pada pasien dengan penurunan kesadaran merupakan komponen penting dalam asuhan keperawatan intensif, dan <em>self-efficacy</em> perawat berperan dalam menentukan keyakinan serta konsistensi mereka dalam melakukan penilaian tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran tingkat <em>self-efficacy</em> perawat <em>intensive care</em> dalam melakukan penilaian nyeri pada pasien dengan penurunan kesadaran.</p> <p><strong>Tujuan</strong>: Mengetahui gambaran tingkat <em>self-efficacy</em> perawat <em>intensive care</em> dalam melakukan penilaian nyeri pada pasien dengan penurunan kesadaran.</p> <p><strong>Metode</strong>: Deskriptif kuantitatif dengan teknik <em>total sampling</em> terhadap 68 perawat yang bekerja di ruang <em>intensive care</em>. Instrumen yang digunakan adalah kuesioner modifikasi <em>general self-efficacy scale</em> yang terdiri dari 16 pernyataan yang menilai tingkat keyakinan perawat dalam menghadapi tugas penilaian nyeri.</p> <p><strong>Hasil</strong>: Mayoritas perawat berada pada kategori <em>self-efficacy</em> sedang (<em>mean</em> 47,53), baik pada skor total maupun seluruh dimensi.</p> <p><strong>Kesimpulan: </strong>Temuan ini mengindikasikan bahwa perawat memiliki keyakinan diri yang cukup baik dalam melakukan penilaian nyeri pada pasien dengan penurunan kesadaran, namun tetap memerlukan penguatan melalui pelatihan serta pembinaan berkelanjutan agar akurasi dan konsistensi praktik penilaian nyeri dapat meningkat secara optimal.</p>2025-12-12T00:00:00+07:00Copyright (c) 2025 Indah Dwi Andhini, Popon Haryeti, Ayu Prameswari Kusuma Astutihttps://e-journal.sari-mutiara.ac.id/index.php/Keperawatan/article/view/6416ANALISIS DETERMINAN KARAKTERISTIK KADER TERHADAP EFIKASI DIRI DALAM UPAYA EDUKASI PIJAT BAYI2025-12-08T12:00:08+07:00Sri Intan Rahayuningsihsriintan@usk.ac.idSri Agustinasri.agustina@usk.ac.id<p><strong>Latar belakang</strong>: Kader sebagai tokoh terpilih, memiliki peran penting melaksanakan edukasi pijat bayi sebagai upaya preventif. Kader perlu memiliki efikasi diri yang tinggi untuk mampu mencapai tujuan dan menghadapi berbagai hambatan dalam tugasnya. Karakteristik yang dimiliki kader dapat mempengaruhi efikasi diri dan berpotensi menjadi pendorong yang akan memperkuat peran kader. </p> <p><strong>Tujuan</strong>: untuk mendeterminasi karakteristik dan efikasi kader, serta mencari faktor mana yang paling besar mempengaruhinya..</p> <p><strong>Metode</strong>: Desain penelitian ini menggunakan observasional analitik dengan pendekatan <em>cross sectional</em>. Populasi dalam penelitian ini adalah kader kesehatan di wilayah kerja Puskesmas di Aceh Besar. Sampel penelitian sesuai kriteria inklusi sebanyak 37 orang. menggunakan <em>purposive sampling</em>. Pengumpulan data menggunakan kuesioner dan data dianalisis dengan analisis multivariat regresi logistik.</p> <p><strong>Hasil</strong>: Karakteristik usia (OR= 0,606), pendidikan (OR=2,110), dan riwayat pelatihan pijat bayi (OR=4,020) merupakan faktor yang mempengaruhi efikasi diri kader dalam upaya edukasi pijat bayi. Riwayat pelatihan pijat bayi merupakan faktor prediktor efikasi diri dengan odds rasio tertinggi.</p> <p><strong>Kesimpulan: </strong>Karakteristik yang tertinggi pengaruhnya sebesar empat kali terhadap efikasi diri adalah pengalaman pelatihan pijat bayi. Oleh karena itu untuk meningkatkan efikasi diri kader maka perlu diberikan pelatihan yang tepat.</p> <p> </p>2025-12-15T00:00:00+07:00Copyright (c) 2025 Sri Intan Rahayuningsih , Sri Agustinahttps://e-journal.sari-mutiara.ac.id/index.php/Keperawatan/article/view/6519EFFECTIVENESS OF SLOW STROKE BACK MASSAGE ON FATIGUE OF HEMODIALYSIS PATIENTS AT RSAU DR. M. SALAMUN BANDUNG IN 20242025-12-09T09:10:49+07:00Syahwaludin DAdedenakbar35@gmail.comRamadhan Adedenakbar35@gmail.comMuhtadin Mdedenakbar35@gmail.comPitono A.Jdedenakbar35@gmail.comTohri Tdedenakbar35@gmail.com<p><strong>Background</strong>: Chronic Kidney Disease (CKD) involves the gradual deterioration of renal function, resulting in the accumulation of metabolic waste and excess fluids, known as uremia. Hemodialysis serves as a renal replacement therapy that cleanses the blood by passing through an artificial kidney (dialyzer), eliminating toxins and surplus fluid through the processes of diffusion and ultrafiltration. Persistent tiredness among patients undergoing hemodialysis typically stems from treatment-related complications such as minor blood loss, resulting anemia, and ongoing uremic toxin retention.</p> <p><strong>Research Objectives</strong>: To determine the effectiveness of SSBM on fatigue of HD patients.</p> <p><strong>Research</strong> <strong>Method</strong>: : this research is quantitative research. Using pre-experimental pre-test post-test research with one group design. The sampling technique obtained by total sampling with a total of 40 male respondents. Using the Wilcoxon test to determine differences before and after intervention..</p> <p><strong>Result</strong>: The results of this study using the Wilcoxon test showed a p-value <0.001.</p> <p style="font-weight: 400;"><strong>Conclusion: </strong>There is a difference in fatigue scores before and after SSBM intervention</p>2025-12-16T00:00:00+07:00Copyright (c) 2025 Syahwaludin DA, Ramadhan A, Muhtadin M, Pitono A.J, Tohri Thttps://e-journal.sari-mutiara.ac.id/index.php/Keperawatan/article/view/6367HUBUNGAN INTENSITAS & UNSUR PENGGUNAAN MEDIA SOSIAL DENGAN KECERDASAN EMOSIONAL REMAJA DI SMP SANTO BELLARMINUS BEKASI2025-11-24T09:41:56+07:00Marbella Valemouren Saegaertmarbellasaegaert3001@gmail.comElisabeth Isti Daryatielisabethdaryati@gmail.comJesika Pasaribuelisabethdaryati@gmail.com<p><strong>Latar Belakang:</strong> Media sosial kini menjadi wadah utama bagi remaja dalam berkomunikasi dan mencari hiburan. Namun, penggunaan yang berlebihan berpotensi memengaruhi perkembangan kecerdasan emosional mereka. Kecerdasan emosional sendiri memiliki peran penting dalam kemampuan individu untuk mengenali, mengelola, serta mengekspresikan emosi secara tepat, sekaligus membangun relasi sosial yang sehat.</p> <p><strong>Tujuan:</strong> Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara intensitas dan unsur penggunaan media sosial dengan kecerdasan emosional pada remaja.</p> <p><strong>Metode:</strong> Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan rancangan deskriptif korelasi dan metode <em>cross-sectional</em>. Sampel penelitian berjumlah 135 siswa kelas VIII dan IX yang ditentukan melalui teknik <em>total sampling</em>. Instrumen yang digunakan meliputi kuesioner kecerdasan emosional (33 item), intensitas penggunaan media sosial (5 item), dan unsur penggunaan media sosial (7 item) yang telah diuji validitas serta reliabilitasnya. Analisis data dilakukan menggunakan uji Kendall’s tau-c.</p> <p><strong>Hasil:</strong> Sebagian besar responden memiliki intensitas penggunaan media sosial yang sering (68,1%), unsur penggunaan media sosial tergolong baik (64,4%), dan tingkat kecerdasan emosional sedang (61,5%). Terdapat hubungan bermakna antara intensitas penggunaan media sosial (p=0,035) dan unsur penggunaan media sosial (p=0,018) dengan kecerdasan emosional.</p> <p><strong>Kesimpulan:</strong> Intensitas dan kualitas penggunaan media sosial berpengaruh terhadap kecerdasan emosional remaja. Penggunaan yang bijak dan terarah dapat mendukung perkembangan emosional, sedangkan penggunaan berlebihan berpotensi menimbulkan dampak negatif.</p>2025-12-16T00:00:00+07:00Copyright (c) 2025 Marbella Valemouren Saegaert, Elisabeth Isti Daryati, Jesika Pasaribuhttps://e-journal.sari-mutiara.ac.id/index.php/Keperawatan/article/view/6558ANALISIS KOMITMEN BUDAYA ORGANISASI SEBAGAI FAKTOR PENENTU KUALITAS KERJA DAN KINERJA PERAWAT DI RUMAH SAKIT2025-12-18T09:28:07+07:00Adventy Riang Bevy Guloadventy_gulo@yahoo.comEva Kartika Hasibuanevakartikahsb86@gmail.comMasri Saragihmasri_saragih@ymail.comTrisnawaty Loiadventy_gulo@yahoo.com<p><strong>Latar Belakang:</strong> Komitmen budaya organisasi merupakan keterikatan psikologis dan fisik karyawan untuk selalu ingin terlibat dan loyal serta bertanggung jawab dalam melaksanakan tugas dalam suatu organisasi.</p> <p><strong>Tujuan:</strong> untuk menganalisis hubungan Komitmen Budaya Organisasi Dengan Kualitas Kerja Dan Kinerja Perawat Di RSUD Dr. Pirngdi Kota Medan.</p> <p><strong>Metode:</strong> menggunakan survey analitik dengan rancangan penelitian cros sectional. Sampel penelitian yang diperoleh berdasarkan kriteria penentuan yakni berjumlah 100 sampel dengan Teknik pengambilan sampel yang di gunakan dalam penelitian ini adalah purposive sampling (teknik penetuan sample dengan pertimbangan tertentu).</p> <p><strong>Hasil:</strong> membuktikan bahwa Mayoritas responden memiliki komitmen budaya organisasi yang sedang sebanyak 36 responden (36%), tinggi sebanyak 35 responden (35%), dan sangat tinggi sebanyak 29 responden (29%). Kemudian mayoritas responden kualitas kerja memiliki yang baik sebanyak 86 responden (86%), dan kualitas yang buruk sebanyak 14 responden (14%). Selanjutnya mayoritas responden kinerja yang baik memiliki sebanyak 90 responden (90%), dan kinerja yang buruk sebanyak 10 responden (10%).</p> <p><strong>Kesimpulan:</strong> terdapat hubungan komitmen budaya organisasi dengan kualitas kerja di RSUD DR. Pirngadi kota Medan dengan nilai signifikan sebesar 0,000 < 0,05. Begitu pun terdapat hubungan komitmen budaya organisasi dengan kinerja perawat di RSUD DR. Pirngadi kota Medan dengan nilai signifikan sebesar 0,001< 0,05.</p>2026-01-15T00:00:00+07:00Copyright (c) 2025 Adventy Riang Bevy Gulo, Eva Kartika Hasibuan, Masri Saragih, Trisnawaty Loihttps://e-journal.sari-mutiara.ac.id/index.php/Keperawatan/article/view/6555KUAT KARENA DI DUKUNG: KONTRIBUSI KELUARGA TERHADAP KEPATUHAN MINUM OBAT PADA PENDERITA TUBERKULOSIS2025-12-13T11:25:41+07:00Sri Yulian Hunowuhunowu.sriyulian@gmail.comIndra Indrans.indra002@ung.ac.idNurnianingsih A. Yasinnsilaen@yahoo.co.idMoh. Nisyar Sy. Abd. Azisnsilaen@yahoo.co.idBergita Dumarnsilaen@yahoo.co.id<p><strong>Latar belakang</strong>: Indonesia menduduki peringkat ke dua di dunia sebagai negara dengan kasus terbanyak tuberkulosis setelah India. Kepatuhan pengobatan menjadi masalah utama dalam menjalani proses pengobatan. Oleh karenanya, dukungan keluarga menjadi krusial dalam meningkatkan kepatuhan minum obat bagi penderita tuberkulosis.</p> <p><strong>Tujuan</strong>: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan dukungan keluarga terhadap kepatuhan pengobatan pada penderita tuberkulosis.</p> <p><strong>Metode</strong>: Jenis penelitian yang digunakan berupa penelitian observasional (analitik) dengan pendekatan <em>cross sectional study. </em>Populasi penelitian ini adalah seluruh pasien penderita tuberkulosis berjumlah 31 orang. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah total sampel, dimana sampel yang digunakan berupa seluruh pasien yang menjalani pengobatan di Puskesmas Langara, Kabupaten Konawe Kepulauan.</p> <p><strong>Hasil</strong>: Hasil penelitian menunjukkan dari total 31 responden, sebanyak 22 responden memiliki dukungan keluarga positif, sedangkan 9 responden mendapatkan dukungan keluarga negatif. Seluruh responden dengan dukungan keluarga positif (100%) menunjukkan kepatuhan terhadap pengobatan tuberkulosis. Pada kelompok dengan dukungan keluarga negatif, terdapat 6 responden (66,7%) yang patuh dan 3 responden (33,3%) yang tidak patuh dalam menjalani pengobatan. Hasil uji statistik menggunakan <em>Fisher’s Exact Test</em> menunjukkan nilai <em>p</em> = 0,019 (<em>p</em> < 0,05), yang menandakan terdapat hubungan signifikan antara dukungan keluarga terhadap kepatuhan pengobatan tuberkulosis.</p> <p><strong>Kesimpulan: </strong>Dukungan keluarga dapat memberikan kontribusi positif kepada kepatuhan penderita TB dalam mengkonsumsi obat, sedangkan kurangnya dukungan keluarga dapat meningkatkan risiko ketidakpatuhan mengkonsumsi obat kepada penderita TB.</p>2026-01-30T00:00:00+07:00Copyright (c) 2025 Sri Yulian Hunowuhttps://e-journal.sari-mutiara.ac.id/index.php/Keperawatan/article/view/6742HUBUNGAN SPIRITUAL WELL-BEING TERHADAP STRES PASIEN HEMODIALISIS2026-01-24T12:03:26+07:00Puji Setya Kinasihpujisk14@gmail.comErna Melastutipujisk14@gmail.comAhmad Ikhlasul Amalpujisk14@gmail.com<p><strong>Latar belakang</strong>: Pasien yang menjalani hemodialisis rentan mengalami stres akibat perubahan fisik, psikologis, dan sosial yang terjadi secara terus-menerus. Spiritual Well-Being berperan penting dalam membantu pasien beradaptasi serta menurunkan tingkat stres selama menjalani terapi jangka panjang.</p> <p><strong>Tujuan</strong>: Studi ini menganalisis hubungan spiritual well-being terhadap stres pasien hemodialisis.</p> <p><strong>Metode</strong>: Penelitian kuantitatif ini menggunakan desain cross-sectional dengan jumlah sampel 100 responden yang dipilih melalui teknik purposive sampling. Pengumpulan data dilakukan menggunakan Spiritual Well-Being Scale (SWBS) kuesioner Perceived Stress Scale (PSS). Analisis data dilakukan dengan uji korelasi Spearman.</p> <p><strong>Hasil</strong>: Sebagian besar responden memiliki spiritual well-being kategori tinggi, serta stres kategori sedang. Hasil analisis menunjukan terdapat hubungan signifikan antara spiritual well-being terhadap stres (p< 0,05) dengan arah korelasi negatif, yang mengindikasikan bahwa semakin tinggi spiritual well-being, maka semakin rendah stres pada pasien hemodialisis.</p> <p><strong>Kesimpulan: </strong>Spiritual well-being berhubungan signifikan terhadap stres pada pasien hemodialisis. Intervensi keperawatan yang mendukung aspek spiritual perlu dipertimbangkan untuk membantu pasien mengelola stres selama menjalani terapi.</p>2026-01-30T00:00:00+07:00Copyright (c) 2025 Puji Setya Kinasihhttps://e-journal.sari-mutiara.ac.id/index.php/Keperawatan/article/view/6827PENGARUH TERAPI KOMBINASI MOBILISASI DINI DENGAN AROMATERAPI LEMON TERHADAP NYERI POST OPERASI PADA PASIEN CHOLELITHIASIS2026-02-04T09:52:17+07:00Sri Salma Rahmilasalmarahmila@gmail.comErna Melastutisalmarahmila@gmail.comAhmad Ikhlasul Amalsalmarahmila@gmail.com<p><strong>Latar belakang</strong>: Nyeri post operasi merupakan masalah yang sering dialami pasien cholelithiasis setelah tindakan pembedahan dan dapat menghambat mobilisasi dini, memperlambat pemulihan, serta menurunkan kenyamanan pasien. Selain terapi farmakologis, perawat berperan penting dalam pemberian intervensi nonfarmakologis untuk mengurangi nyeri, salah satunya kombinasi mobilisasi dini dan aromaterapi lemon.</p> <p><strong>Tujuan</strong>: mengetahui pengaruh terapi kombinasi mobilisasi dini dengan aromaterapi lemon terhadap nyeri post operasi pada pasien cholelithiasis.</p> <p><strong>Metode</strong>: menggunakan desain quasi-eksperimen dengan pendekatan pretest–posttest with control group. Sampel berjumlah 36 responden yang dibagi menjadi kelompok perlakuan dan kelompok kontrol. Tingkat nyeri diukur menggunakan Numeric Rating Scale sebelum dan sesudah intervensi. Analisis data menggunakan uji Wilcoxon dan uji Mann–Whitney.</p> <p><strong>Hasil</strong>: rata-rata tingkat nyeri kelompok perlakuan menurun dari 3,78 ± 0,428 menjadi 2,28 ± 0,575 setelah intervensi. Uji Wilcoxon menunjukkan penurunan yang bermakna (p < 0,05) dengan kekuatan efek sangat kuat. Pada kelompok kontrol, perubahan tingkat nyeri tidak bermakna (p > 0,05). Uji Mann–Whitney menunjukkan perbedaan signifikan antara kelompok perlakuan dan kontrol setelah intervensi (p < 0,05), sehingga terapi kombinasi mobilisasi dini dengan aromaterapi lemon efektif menurunkan nyeri pascaoperasi pada pasien cholelithiasis.</p> <p><strong>Kesimpulan</strong>: menunjukkan bahwa kombinasi mobilisasi dini dan aromaterapi lemon efektif menurunkan nyeri post operasi pada pasien cholelithiasis dan dapat direkomendasikan sebagai intervensi keperawatan nonfarmakologis.</p>2026-02-06T00:00:00+07:00Copyright (c) 2025 Sri Salmahttps://e-journal.sari-mutiara.ac.id/index.php/Keperawatan/article/view/6828PENGARUH TERAPI KOMBINASI RELAKSASI AUTOGENIK DAN SLEEP HYGIENE TERHADAP KUALITAS TIDUR PASIEN HEMODIALISIS2026-02-04T09:53:04+07:00Ima Rotul Khusnaimarotulkhusna01@gmail.comErna Melastutiimarotulkhusna01@gmail.comAhmad Ikhlasul Amalimarotulkhusna01@gmail.com<p><strong>Latar Belakang:</strong> Gangguan tidur merupakan keluhan yang sering dialami pasien hemodialisis akibat akumulasi toksin uremik, ketidaknyamanan prosedur, perubahan ritme aktivitas, dan stres psikologis. Kondisi ini dapat berdampak pada kesehatan fisik, keseimbangan emosional, dan kualitas hidup.</p> <p><strong>Tujuan:</strong> Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh terapi kombinasi relaksasi autogenik dan sleep hygiene terhadap kualitas tidur pasien hemodialisis.</p> <p><strong>Metode:</strong> Penelitian ini menggunakan desain <em>quasi-eksperimen </em>dengan pendekatan <em>pretest–posttest with control group</em>. Sebanyak 44 responden dipilih menggunakan teknik <em>purposive sampling</em> dan dibagi menjadi kelompok perlakuan dan kelompok kontrol. Kelompok perlakuan diberikan terapi kombinasi relaksasi autogenik dan sleep hygiene dua kali seminggu selama 20 menit setiap sesi. Kualitas tidur diukur menggunakan <em>Pittsburgh Sleep Quality Index</em> (PSQI).</p> <p><strong>Hasil:</strong> Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebelum intervensi, sebagian besar responden pada kelompok perlakuan memiliki kualitas tidur buruk (95,5%). Setelah diberikan terapi, kualitas tidur meningkat menjadi kategori baik (86,4%). Uji Wilcoxon menunjukkan nilai p=0,000 (p<0,05). Pada kelompok kontrol, kualitas tidur tidak menunjukkan perubahan yang bermakna.</p> <p><strong>Kesimpulan:</strong> Terapi kombinasi relaksasi autogenik dan <em>sleep hygiene</em> berpengaruh signifikan dalam meningkatkan kualitas tidur pasien hemodialisis, sehingga direkomendasikan sebagai intervensi keperawatan nonfarmakologis yang dapat diterapkan secara rutin dalam praktik klinik.</p>2026-02-06T00:00:00+07:00Copyright (c) 2025 Ima Rotul -https://e-journal.sari-mutiara.ac.id/index.php/Keperawatan/article/view/6860HUBUNGAN PENGETAHUAN DENGAN SIKAP IBU DALAM MELAKUKAN PERTOLONGAN PERTAMA TERSEDAK PADA ANAK USIA DINI2026-02-11T13:24:47+07:00Normi Parida Sipayungnormisipayung7@gmail.comRani Kawati Damanikrani1403877@gmail.comAmila Amilaamila88@gmail.comKynanti Kynantinormisipayung7@gmail.com<p><strong>Latar belakang</strong>: Tersedak adalah suatu kondisi yang sangat sering terjadi pada anak usia dini yaitu tersumbatnya jalan napas akibat benda asing baik secara total atau parsial, yang dapat menyebabkan korban kesulitan bernapas, kekurangan oksigen, dan penyebab kematian.</p> <p><strong>Tujuan</strong>: Untuk mengetahui hubungan pengetahuan dengan sikap ibu tentang pertolongan pertama tersedak pada anak usia dini di Dusun Vl Desa Padang Pulau.</p> <p><strong>Metode</strong>: Penelitian ini merupakan kuantitatif dengan pendekatan analisis korelasi dengan desain <em>cross-sectional. </em>Populasi dalam penelitian ini adalah Ibu yang memiliki anak usia dini di Dusun Vl Desa Padang Pulau. Sampel dalam penelitian ini sebanyak 42 orang dengan teknik pengambilan sampel menggunakan metode <em>total sampling</em>. Pengumpulan data menggunakan kuesioner dan dianalisis menggunakan uji <em>spearman rank</em>.</p> <p><strong>Hasil</strong>: Hasil penelitian pada tingkat pengetahuan baik sebanyak 52,4%, tingkat pengetahuan cukup sebanyak 47,6%, untuk sikap baik sebanyak 73,8%, sikap tidak baik sebanyak 26,2%. Hasil uji <em>spearman rank </em> didapatkan hasil p=0,000 yang artinya ada hubungan pengetahuan ibu dengan sikap melakukan pertolongan pertama tersedak pada anak usia dini, dengan nilai r=0,516 yang artinya memiliki keeratan hubungan yang kuat.</p> <p><strong>Kesimpulan: </strong>Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa ada hubungan tingkat pengetahuan dengan sikap ibu tentang pertolongan pertama tersedak pada anak usia dini, semakin baik tingkat pengetahuan ibu semakin baik juga sikap ibu dalam melakukan pertolongan pertama tersedak pada anak usia dini.</p>2026-02-14T00:00:00+07:00Copyright (c) 2025 Normi Parida Sipayung, Rani Kawati Damanik, Kynanti