JURNAL MUTIARA KESEHATAN MASYARAKAT
https://e-journal.sari-mutiara.ac.id/index.php/JMKM
<p style="text-align: justify;">Jurnal Mutiara Kesehatan Masyarakat merupakan jurnal yang dipublikasikan oleh Program Studi Ilmu Kesehatan Masyarakat Universitas Sari Mutiara Indonesia sejak 8 Juni 2016 dengan SK no. 0005.25278185/JI.3.1/SK.ISSN/2016.06. Jurnal Mutiara Kesehatan Masyarakat dipublikasikan dua kali dalam setahun yakni di bulan Juni dan Desember.</p> <p style="text-align: justify;"><strong>ISSN: 2527-8185 (media online).</strong></p>Program Studi Kesehatan Masyarakat Universitas Sari Mutiara Indonesiaen-USJURNAL MUTIARA KESEHATAN MASYARAKAT2527-8185FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KESADARAN K3 MAHASISWA KEPERAWATAN PADA PRAKTIKUM LABORATORIUM: STUDI CROSS-SECTIONAL UNIVERSITAS KEPANJEN
https://e-journal.sari-mutiara.ac.id/index.php/JMKM/article/view/5993
<p><strong>Latar belakang:</strong> Praktikum laboratorium merupakan bagian penting dalam pendidikan keperawatan, namun berisiko menimbulkan kecelakaan kerja akibat paparan bahaya biologis, kimia, dan fisik. Oleh karena itu, mahasiswa keperawatan perlu memiliki kesadaran Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) yang baik. Kesadaran K3 dipengaruhi oleh berbagai faktor internal dan eksternal, namun bukti empiris pada mahasiswa keperawatan di perguruan tinggi masih terbatas.</p> <p><strong>Tujuan:</strong> Menganalisis faktor-faktor yang memengaruhi kesadaran K3 mahasiswa keperawatan dalam praktikum laboratorium di Universitas Kepanjen.</p> <p><strong>Metode:</strong> Penelitian kuantitatif dengan desain cross-sectional ini melibatkan 56 mahasiswa keperawatan yang mengikuti praktikum laboratorium pada semester genap 2025 melalui teknik total sampling. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner tervalidasi yang mencakup pengetahuan dan sikap K3, ketersediaan fasilitas K3, peran dosen atau instruktur, pengalaman kecelakaan kerja, serta tingkat kesadaran K3. Analisis dilakukan menggunakan uji <em>Chi-square</em> dan regresi logistik (p < 0,05).</p> <p><strong>Hasil:</strong> Pengetahuan K3 (p = 0,001), sikap terhadap K3 (p = 0,002), ketersediaan fasilitas K3 (p = 0,004), dan peran dosen atau instruktur (p = 0,003) berhubungan signifikan dengan kesadaran K3 mahasiswa. Pengetahuan K3 merupakan faktor paling dominan (OR = 5,58; 95% CI: 1,47–21,20; p = 0,011).</p> <p><strong>Kesimpulan:</strong> Kesadaran K3 mahasiswa keperawatan dipengaruhi terutama oleh pengetahuan, sikap, ketersediaan fasilitas, dan peran dosen. Implikasi praktis: institusi pendidikan keperawatan perlu memperkuat pembelajaran dan sosialisasi K3, menyediakan fasilitas keselamatan yang memadai, serta meningkatkan peran aktif dosen atau instruktur dalam pengawasan praktikum laboratorium.</p>Yotin Bayu MerryaniMuhamad Mustofa
Copyright (c) 2026 Yotin Bayu Merryani, Muhamad Mustofa
https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0
2026-06-022026-06-021111910.51544/jmkm.v11i1.5993HUBUNGAN STRES KERJA DAN PERILAKU MENGEMUDI AGRESIF PADA DRIVER OJEK ONLINE
https://e-journal.sari-mutiara.ac.id/index.php/JMKM/article/view/5965
<p><strong>Latar Belakang:</strong> Profesi driver ojek online berkembang pesat seiring meningkatnya kebutuhan transportasi berbasis aplikasi. Tuntutan pekerjaan seperti target waktu, kepadatan lalu lintas, dan tekanan dari konsumen berpotensi menimbulkan stres kerja. Stres kerja diduga berperan dalam memengaruhi perilaku mengemudi agresif yang dapat meningkatkan risiko kecelakaan lalu lintas. Namun, hasil penelitian sebelumnya menunjukkan temuan yang belum konsisten.</p> <p><strong>Tujuan:</strong> untuk mengetahui hubungan antara stres kerja dengan perilaku mengemudi agresif pada driver ojek online.</p> <p><strong>Metode:</strong> penelitian kuantitatif dengan desain <em>cross-sectional</em>. Subjek penelitian berjumlah 121 driver ojek online di Kecamatan Grogol Petamburan, Jakarta Barat, yang dipilih menggunakan teknik <em>consecutive non-random sampling</em>. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner stres kerja dan <em>Aggressive Driving Behavior Scale</em> (ABDS) yang telah tervalidasi. Analisis data dilakukan secara bivariat menggunakan uji <em>Fisher’s exact test</em> dengan tingkat kemaknaan p < 0,05.</p> <p><strong>Hasil:</strong> Sebagian besar responden mengalami stres kerja kategori sedang (66,1%) dan menunjukkan perilaku mengemudi agresif kategori rendah (90,9%). Hasil analisis bivariat menunjukkan tidak terdapat hubungan yang signifikan antara stres kerja dengan perilaku mengemudi agresif pada driver ojek online (p = 0,730).</p> <p><strong>Kesimpulan:</strong> Tidak terdapat hubungan yang signifikan antara stres kerja dengan perilaku mengemudi agresif pada driver ojek online. Oleh karena itu, upaya pencegahan perilaku mengemudi agresif perlu mempertimbangkan faktor lain di luar stres kerja, seperti faktor individu, lingkungan, dan kondisi situasional.</p>Alvin Venantius PhientercahyadiPurnamawati Tjhin
Copyright (c) 2026 Alvin Venantius Phientercahyadi, Purnamawati Tjhin
https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0
2026-06-022026-06-02111101710.51544/jmkm.v11i1.5965HUBUNGAN WORK LIFE BALANCE DAN KELELAHAN KERJA PADA KARYAWAN
https://e-journal.sari-mutiara.ac.id/index.php/JMKM/article/view/5964
<p><strong>Latar belakang:</strong> Kelelahan kerja (<em>burnout</em>) merupakan masalah kesehatan kerja yang berdampak pada produktivitas, kualitas pelayanan, dan kesejahteraan pekerja. Di Indonesia, prevalensi <em>kelelahan kerja </em>dilaporkan mencapai 63,78%. Tingginya tuntutan pekerjaan, khususnya pada pelaksanaan program pemerintah Makanan Bergizi Gratis (MBG), berpotensi mengganggu keseimbangan kehidupan kerja (<em>work life balance/WLB</em>) dan meningkatkan risiko kelelahan kerja pada karyawan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).</p> <p><strong>Tujuan:</strong> Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara <em>work life balance</em> dan kelelahan kerja pada karyawan SPPG.</p> <p><strong>Metode:</strong> Penelitian ini merupakan studi observasional analitik dengan desain potong lintang (<em>cross-sectional</em>). Sebanyak 47 karyawan SPPG Pasar Minggu, Jakarta Selatan, dipilih menggunakan teknik <em>total sampling</em>. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner <em>Copenhagen Burnout Inventory</em> (CBI) dan <em>Work life balance Scale</em> (WLBS). Analisis bivariat dilakukan menggunakan uji <em>Fisher’s Exact Test</em> dengan tingkat kemaknaan statistik 0,05.</p> <p><strong>Hasil:</strong> Tidak terdapat responden dengan tingkat <em>WLB</em> kategori tinggi maupun sangat tinggi. Sebagian besar responden berada pada kategori <em>WLB </em>sangat rendah (46,8%) dan rendah (27,7%). Tingkat kelelahan kerja menunjukkan kondisi yang sangat tinggi, dengan 87,2% responden berada pada kategori sangat tinggi dan 12,8% pada kategori tinggi. Hasil analisis menunjukkan tidak terdapat hubungan yang bermakna antara <em>work life balance</em> dan kelelahan kerja (p = 0,164).</p> <p><strong>Kesimpulan:</strong> Kelelahan kerja pada karyawan SPPG tergolong sangat tinggi, namun <em>work life balance</em> tidak berhubungan secara signifikan dengan kelelahan kerja. Upaya skrining dan edukasi kesehatan kerja tetap diperlukan sebagai langkah preventif untuk mencegah <em>kelelahan kerja</em> dan meningkatkan kesejahteraan pekerja.</p>Alinda ArsyPurnamawati Tjhin
Copyright (c) 2026 Alinda Arsy, Purnamawati Tjhin
https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0
2026-06-022026-06-02111182610.51544/jmkm.v11i1.5964HUBUNGAN DURASI MENGEMUDI DENGAN NECK PAIN PADA DRIVER OJEK ONLINE
https://e-journal.sari-mutiara.ac.id/index.php/JMKM/article/view/5963
<p><strong>Latar belakang</strong>: Perkembangan transportasi berbasis aplikasi mendorong peningkatan jumlah <em>driver </em>ojek <em>online</em> dengan tuntutan kerja yang tinggi. Aktivitas mengemudi dalam durasi lama dengan posisi duduk statis dan postur yang kurang ergonomis berpotensi menimbulkan keluhan muskuloskeletal, khususnya <em>neck pain</em>. Namun, hasil penelitian sebelumnya mengenai hubungan durasi mengemudi dengan <em>neck pain</em> masih menunjukkan temuan yang tidak konsisten.</p> <p><strong>Tujuan</strong>: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara durasi mengemudi dengan kejadian <em>neck pain</em> pada <em>driver</em> ojek <em>online</em>.</p> <p><strong>Metode</strong>: Penelitian ini merupakan studi observasional analitik dengan desain <em>cross-sectional</em>. Subjek penelitian berjumlah 124 <em>driver</em> ojek <em>online</em> yang direkrut menggunakan teknik <em>consecutive non-random sampling.</em> Data dikumpulkan menggunakan kuesioner durasi mengemudi harian dan instrumen <em>Neck Disability Index</em> (NDI) yang telah tervalidasi dan reliabel. Analisis data dilakukan secara bivariat menggunakan <em>Fisher’s Exact Test</em> dengan bantuan perangkat lunak.</p> <p><strong>Hasil</strong>: Mayoritas responden berusia ≤40 tahun (58,1%) dan berjenis kelamin laki-laki (94,4%). Sebagian besar responden memiliki durasi mengemudi melebihi 8 jam per hari (85,5%). Keluhan <em>neck pain</em> paling banyak berada pada kategori ringan (96,8%), sedangkan keluhan sedang ditemukan pada 3,2% responden dan tidak ditemukan keluhan berat. Hasil analisis menunjukkan tidak terdapat hubungan yang bermakna antara durasi mengemudi dan kejadian <em>neck pain</em> (p = 0,470).</p> <p class="TableParagraph"><strong>Kesimpulan: </strong>Tidak terdapat hubungan signifikan antara durasi mengemudi dan kejadian <em>neck pain</em> pada <em>driver ojek online</em>. Temuan ini menunjukkan bahwa upaya pencegahan <em>neck pain</em> perlu mempertimbangkan faktor ergonomi dan karakteristik kerja lainnya sebagai bagian dari promosi kesehatan kerja di masyarakat.</p>Rivaldi AbdillahPurnamawati Tjhin
Copyright (c) 2026 Rivaldi Abdillah, Purnamawati Tjhin
https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0
2026-06-022026-06-02111273310.51544/jmkm.v11i1.5963