JURNAL MUTIARA KESEHATAN MASYARAKAT
https://e-journal.sari-mutiara.ac.id/index.php/JMKM
<p style="text-align: justify;">Jurnal Mutiara Kesehatan Masyarakat merupakan jurnal yang dipublikasikan oleh Program Studi Ilmu Kesehatan Masyarakat Universitas Sari Mutiara Indonesia sejak 8 Juni 2016 dengan SK no. 0005.25278185/JI.3.1/SK.ISSN/2016.06. Jurnal Mutiara Kesehatan Masyarakat dipublikasikan dua kali dalam setahun yakni di bulan Juni dan Desember.</p> <p style="text-align: justify;"><strong>ISSN: 2527-8185 (media online).</strong></p>Program Studi Kesehatan Masyarakat Universitas Sari Mutiara Indonesiaen-USJURNAL MUTIARA KESEHATAN MASYARAKAT2527-8185FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KESADARAN K3 MAHASISWA KEPERAWATAN PADA PRAKTIKUM LABORATORIUM: STUDI CROSS-SECTIONAL UNIVERSITAS KEPANJEN
https://e-journal.sari-mutiara.ac.id/index.php/JMKM/article/view/5993
<p><strong>Latar belakang:</strong> Praktikum laboratorium merupakan bagian penting dalam pendidikan keperawatan, namun berisiko menimbulkan kecelakaan kerja akibat paparan bahaya biologis, kimia, dan fisik. Oleh karena itu, mahasiswa keperawatan perlu memiliki kesadaran Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) yang baik. Kesadaran K3 dipengaruhi oleh berbagai faktor internal dan eksternal, namun bukti empiris pada mahasiswa keperawatan di perguruan tinggi masih terbatas.</p> <p><strong>Tujuan:</strong> Menganalisis faktor-faktor yang memengaruhi kesadaran K3 mahasiswa keperawatan dalam praktikum laboratorium di Universitas Kepanjen.</p> <p><strong>Metode:</strong> Penelitian kuantitatif dengan desain cross-sectional ini melibatkan 56 mahasiswa keperawatan yang mengikuti praktikum laboratorium pada semester genap 2025 melalui teknik total sampling. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner tervalidasi yang mencakup pengetahuan dan sikap K3, ketersediaan fasilitas K3, peran dosen atau instruktur, pengalaman kecelakaan kerja, serta tingkat kesadaran K3. Analisis dilakukan menggunakan uji <em>Chi-square</em> dan regresi logistik (p < 0,05).</p> <p><strong>Hasil:</strong> Pengetahuan K3 (p = 0,001), sikap terhadap K3 (p = 0,002), ketersediaan fasilitas K3 (p = 0,004), dan peran dosen atau instruktur (p = 0,003) berhubungan signifikan dengan kesadaran K3 mahasiswa. Pengetahuan K3 merupakan faktor paling dominan (OR = 5,58; 95% CI: 1,47–21,20; p = 0,011).</p> <p><strong>Kesimpulan:</strong> Kesadaran K3 mahasiswa keperawatan dipengaruhi terutama oleh pengetahuan, sikap, ketersediaan fasilitas, dan peran dosen. Implikasi praktis: institusi pendidikan keperawatan perlu memperkuat pembelajaran dan sosialisasi K3, menyediakan fasilitas keselamatan yang memadai, serta meningkatkan peran aktif dosen atau instruktur dalam pengawasan praktikum laboratorium.</p>Yotin Bayu MerryaniMuhamad Mustofa
Copyright (c) 2026 Yotin Bayu Merryani, Muhamad Mustofa
https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0
2026-06-022026-06-021111910.51544/jmkm.v11i1.5993HUBUNGAN STRES KERJA DAN PERILAKU MENGEMUDI AGRESIF PADA DRIVER OJEK ONLINE
https://e-journal.sari-mutiara.ac.id/index.php/JMKM/article/view/5965
<p><strong>Latar Belakang:</strong> Profesi driver ojek online berkembang pesat seiring meningkatnya kebutuhan transportasi berbasis aplikasi. Tuntutan pekerjaan seperti target waktu, kepadatan lalu lintas, dan tekanan dari konsumen berpotensi menimbulkan stres kerja. Stres kerja diduga berperan dalam memengaruhi perilaku mengemudi agresif yang dapat meningkatkan risiko kecelakaan lalu lintas. Namun, hasil penelitian sebelumnya menunjukkan temuan yang belum konsisten.</p> <p><strong>Tujuan:</strong> untuk mengetahui hubungan antara stres kerja dengan perilaku mengemudi agresif pada driver ojek online.</p> <p><strong>Metode:</strong> penelitian kuantitatif dengan desain <em>cross-sectional</em>. Subjek penelitian berjumlah 121 driver ojek online di Kecamatan Grogol Petamburan, Jakarta Barat, yang dipilih menggunakan teknik <em>consecutive non-random sampling</em>. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner stres kerja dan <em>Aggressive Driving Behavior Scale</em> (ABDS) yang telah tervalidasi. Analisis data dilakukan secara bivariat menggunakan uji <em>Fisher’s exact test</em> dengan tingkat kemaknaan p < 0,05.</p> <p><strong>Hasil:</strong> Sebagian besar responden mengalami stres kerja kategori sedang (66,1%) dan menunjukkan perilaku mengemudi agresif kategori rendah (90,9%). Hasil analisis bivariat menunjukkan tidak terdapat hubungan yang signifikan antara stres kerja dengan perilaku mengemudi agresif pada driver ojek online (p = 0,730).</p> <p><strong>Kesimpulan:</strong> Tidak terdapat hubungan yang signifikan antara stres kerja dengan perilaku mengemudi agresif pada driver ojek online. Oleh karena itu, upaya pencegahan perilaku mengemudi agresif perlu mempertimbangkan faktor lain di luar stres kerja, seperti faktor individu, lingkungan, dan kondisi situasional.</p>Alvin Venantius PhientercahyadiPurnamawati Tjhin
Copyright (c) 2026 Alvin Venantius Phientercahyadi, Purnamawati Tjhin
https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0
2026-06-022026-06-02111101710.51544/jmkm.v11i1.5965HUBUNGAN WORK LIFE BALANCE DAN KELELAHAN KERJA PADA KARYAWAN
https://e-journal.sari-mutiara.ac.id/index.php/JMKM/article/view/5964
<p><strong>Latar belakang:</strong> Kelelahan kerja (<em>burnout</em>) merupakan masalah kesehatan kerja yang berdampak pada produktivitas, kualitas pelayanan, dan kesejahteraan pekerja. Di Indonesia, prevalensi <em>kelelahan kerja </em>dilaporkan mencapai 63,78%. Tingginya tuntutan pekerjaan, khususnya pada pelaksanaan program pemerintah Makanan Bergizi Gratis (MBG), berpotensi mengganggu keseimbangan kehidupan kerja (<em>work life balance/WLB</em>) dan meningkatkan risiko kelelahan kerja pada karyawan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).</p> <p><strong>Tujuan:</strong> Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara <em>work life balance</em> dan kelelahan kerja pada karyawan SPPG.</p> <p><strong>Metode:</strong> Penelitian ini merupakan studi observasional analitik dengan desain potong lintang (<em>cross-sectional</em>). Sebanyak 47 karyawan SPPG Pasar Minggu, Jakarta Selatan, dipilih menggunakan teknik <em>total sampling</em>. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner <em>Copenhagen Burnout Inventory</em> (CBI) dan <em>Work life balance Scale</em> (WLBS). Analisis bivariat dilakukan menggunakan uji <em>Fisher’s Exact Test</em> dengan tingkat kemaknaan statistik 0,05.</p> <p><strong>Hasil:</strong> Tidak terdapat responden dengan tingkat <em>WLB</em> kategori tinggi maupun sangat tinggi. Sebagian besar responden berada pada kategori <em>WLB </em>sangat rendah (46,8%) dan rendah (27,7%). Tingkat kelelahan kerja menunjukkan kondisi yang sangat tinggi, dengan 87,2% responden berada pada kategori sangat tinggi dan 12,8% pada kategori tinggi. Hasil analisis menunjukkan tidak terdapat hubungan yang bermakna antara <em>work life balance</em> dan kelelahan kerja (p = 0,164).</p> <p><strong>Kesimpulan:</strong> Kelelahan kerja pada karyawan SPPG tergolong sangat tinggi, namun <em>work life balance</em> tidak berhubungan secara signifikan dengan kelelahan kerja. Upaya skrining dan edukasi kesehatan kerja tetap diperlukan sebagai langkah preventif untuk mencegah <em>kelelahan kerja</em> dan meningkatkan kesejahteraan pekerja.</p>Alinda ArsyPurnamawati Tjhin
Copyright (c) 2026 Alinda Arsy, Purnamawati Tjhin
https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0
2026-06-022026-06-02111182610.51544/jmkm.v11i1.5964HUBUNGAN DURASI MENGEMUDI DENGAN NECK PAIN PADA DRIVER OJEK ONLINE
https://e-journal.sari-mutiara.ac.id/index.php/JMKM/article/view/5963
<p><strong>Latar belakang</strong>: Perkembangan transportasi berbasis aplikasi mendorong peningkatan jumlah <em>driver </em>ojek <em>online</em> dengan tuntutan kerja yang tinggi. Aktivitas mengemudi dalam durasi lama dengan posisi duduk statis dan postur yang kurang ergonomis berpotensi menimbulkan keluhan muskuloskeletal, khususnya <em>neck pain</em>. Namun, hasil penelitian sebelumnya mengenai hubungan durasi mengemudi dengan <em>neck pain</em> masih menunjukkan temuan yang tidak konsisten.</p> <p><strong>Tujuan</strong>: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara durasi mengemudi dengan kejadian <em>neck pain</em> pada <em>driver</em> ojek <em>online</em>.</p> <p><strong>Metode</strong>: Penelitian ini merupakan studi observasional analitik dengan desain <em>cross-sectional</em>. Subjek penelitian berjumlah 124 <em>driver</em> ojek <em>online</em> yang direkrut menggunakan teknik <em>consecutive non-random sampling.</em> Data dikumpulkan menggunakan kuesioner durasi mengemudi harian dan instrumen <em>Neck Disability Index</em> (NDI) yang telah tervalidasi dan reliabel. Analisis data dilakukan secara bivariat menggunakan <em>Fisher’s Exact Test</em> dengan bantuan perangkat lunak.</p> <p><strong>Hasil</strong>: Mayoritas responden berusia ≤40 tahun (58,1%) dan berjenis kelamin laki-laki (94,4%). Sebagian besar responden memiliki durasi mengemudi melebihi 8 jam per hari (85,5%). Keluhan <em>neck pain</em> paling banyak berada pada kategori ringan (96,8%), sedangkan keluhan sedang ditemukan pada 3,2% responden dan tidak ditemukan keluhan berat. Hasil analisis menunjukkan tidak terdapat hubungan yang bermakna antara durasi mengemudi dan kejadian <em>neck pain</em> (p = 0,470).</p> <p class="TableParagraph"><strong>Kesimpulan: </strong>Tidak terdapat hubungan signifikan antara durasi mengemudi dan kejadian <em>neck pain</em> pada <em>driver ojek online</em>. Temuan ini menunjukkan bahwa upaya pencegahan <em>neck pain</em> perlu mempertimbangkan faktor ergonomi dan karakteristik kerja lainnya sebagai bagian dari promosi kesehatan kerja di masyarakat.</p>Rivaldi AbdillahPurnamawati Tjhin
Copyright (c) 2026 Rivaldi Abdillah, Purnamawati Tjhin
https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0
2026-06-022026-06-02111273310.51544/jmkm.v11i1.5963PERENCANAAN DAN DISTRIBUSI SUMBER DAYA MANUSIA (SDM) KESEHATAN: TANTANGAN, FAKTOR PENENTU, DAN STRATEGI PEMERATAAN
https://e-journal.sari-mutiara.ac.id/index.php/JMKM/article/view/6211
<p><strong>Latar belakang:</strong> Sumber daya manusia kesehatan (SDMK) merupakan fondasi utama sistem kesehatan dan penentu keberhasilan pencapaian Cakupan Kesehatan Semesta (<em>Universal Health Coverage</em> [UHC]). Meskipun jumlah tenaga kesehatan meningkat, ketimpangan distribusi antarwilayah, antarjenis tenaga, dan antartingkat fasilitas masih menjadi tantangan serius, khususnya di negara berkembang seperti Indonesia. Ketidakseimbangan ini berdampak pada akses, mutu layanan, dan keadilan kesehatan.</p> <p><strong>Tujuan:</strong> mengkaji tantangan, faktor penentu, dan strategi pemerataan dalam perencanaan serta distribusi SDMK guna memperkuat sistem kesehatan.</p> <p><strong>Metode:</strong> desain literature review dengan penelusuran sistematis melalui basis data PubMed dan Google Scholar terhadap publikasi 20 tahun terakhir berbahasa Indonesia dan Inggris. Kriteria inklusi mencakup penelitian kuantitatif, kualitatif, mixed-method, studi kebijakan, serta dokumen kebijakan yang relevan dengan perencanaan dan distribusi SDMK. Sebanyak 15 artikel memenuhi kriteria dan dianalisis menggunakan pendekatan sintesis tematik secara naratif untuk mengidentifikasi pola tantangan, faktor determinan, dan strategi pemerataan.</p> <p><strong>Hasil:</strong> Ketimpangan distribusi SDMK dipengaruhi oleh faktor multidimensional, meliputi preferensi individu, keterbatasan tata kelola, sistem informasi yang belum terintegrasi, ketidaksesuaian produksi dan kebutuhan tenaga, serta lemahnya kebijakan retensi. Strategi efektif meliputi perencanaan berbasis kebutuhan seperti <em>Workload Indicators of Staffing Need</em> (WISN), reformasi pendidikan berbasis komunitas, regulasi penempatan, insentif finansial dan nonfinansial, serta pemanfaatan inovasi seperti task shifting dan telemedicine.</p> <p><strong>Kesimpulan:</strong> Pemerataan SDMK memerlukan pendekatan komprehensif dan berbasis bukti yang terintegrasi lintas sektor. Implikasi bagi pengabdian kepada masyarakat mencakup penguatan advokasi kebijakan, pendampingan perencanaan SDMK berbasis beban kerja di daerah, serta edukasi dan kolaborasi komunitas untuk mendukung retensi tenaga kesehatan secara berkelanjutan.</p>Lilis Heri Mis CicihDitia ChrospandiEndah SulistyowatiMila SuryaniPriyo NugrohoRinne YuliantiSaumadin SaumadinSujarwo TribuwonoWilly Johan
Copyright (c) 2026 Lilis Heri Mis Cicih, Ditia Chrospandi, Endah Sulistyowati, Mila Suryani, Priyo Nugroho, Rinne Yulianti, Saumadin, Sujarwo Tribuwono, Willy Johan
https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0
2026-06-082026-06-08111344510.51544/jmkm.v11i1.6211ANALISIS DETERMINAN YANG BERKONTRIBUSI TERHADAP KEJADIAN PREDIABETES DI TAZKIYA LEARNING CENTER
https://e-journal.sari-mutiara.ac.id/index.php/JMKM/article/view/6261
<p><strong>Latar belakang</strong>: Pada tahun 2023, kejadian diabetes di kabupaten Bandung menduduki peringkat pertama penderita terbanyak. Risiko kejadian diabetes dapat diasosiasikan dengan angka prediabetes. Adapun faktor - faktor gaya hidup, pola makan yang kurang baik, genetik, dan komposisi tubuh mempengaruhi kejadian prediabetes.</p> <p><strong>Tujuan</strong>: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang berkontribusi dengan kejadian prediabetes pada pekerja usia produktif di sekolah Tazkiya Learning Center Kabupaten Bandung.</p> <p><strong>Metode</strong>: Penelitian kuantitatif dengan pendekatan cross-sectional. Sampel penelitian didapatkan melalui teknik <em>purposive sampling </em>dengan jumlah 27 orang. Analisis data primer dengan melakukan analisis univariat dan bivariat. Uji statistik menggunakan uji chi-square</p> <p><strong>Hasil</strong>: Keseluruhan nilai p-value tiap variabel >0.05 yang menunjukan tidak adanya hubungan signifikan. IMT dengan <em>p-value </em>1 (<em>p</em>>0.05), usia dengan <em>p-value </em>0.075 (p>0.05), tekanan darah dengan p-value sebesar 0.596 (p>0,05), riwayat DM keluarga dengan p-value sebesar 1 (p>0,05), aktivitas fisik dengan <em>p-value </em>sebesar 0.869 (p>0,05), konsumsi buah dan sayur dengan <em>p-value </em>1 (<em>p</em>>0.05), makanan dan minuman manis dengan <em>p-value </em>0.594 (<em>p</em>>0.05), makanan berlemak dengan <em>p-value </em>1 (<em>p </em>> 0.05), dan minuman berenergi dengan <em>p-value </em>1 (<em>p </em>> 0.05).</p> <p><strong>Kesimpulan: </strong>Berdasarkan penelitian dan hasil uji statistik, tidak terdapat hubungan yang signifikan antara variabel yang diteliti dengan kejadian prediabetes pada pekerja usia produktif di Tazkiya <em>Learning Center.</em></p> <p><em> </em></p> <p><em> </em></p>Fayza Aulia AzharAnnisa Tazkiya Muenchenia MoelyadiMirzani HerfinaNisrina Khalisa ZahiraSiti MaulidaPutri Novitasari
Copyright (c) 2026 Fayza Aulia Azhar, Annisa Tazkiya Muenchenia Moelyadi, Mirzani Herfina, Nisrina Khalisa Zahira, Siti Maulida, Putri Novitasari
https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0
2026-06-182026-06-18111465910.51544/jmkm.v11i1.6261PENATALAKSANAAN FISIOTERAPI PADA BELL’S PALSY SINISTRA DENGAN INFRARED TENS DAN TERAPI LATIHAN
https://e-journal.sari-mutiara.ac.id/index.php/JMKM/article/view/6208
<p><strong>Latar belakang</strong>: <em>Bell’s </em>palsy yaitu suatu kelumpuhan saraf <em>facialis </em><em>perifer</em> yang muncul dengan tiba-tiba, biasanya bersifat unilateral yang menyerang pada <em>Nervus fascialis</em> (N.VII). Prevalensi <em>bell’s palsy</em> berkisar 22,4 hingga 22,8 kasus per 100.000 orang setiap tahunnya.</p> <p><strong>Tujuan</strong>: mendeskripsikan penatalaksanaan dan hasil fisioterapi menggunakan Infrared (IR), TENS, dan terapi latihan pada pasien <em>Bell's Palsy</em> di Poli Instalasi Rehab Medik Rumkit Tk. II dr. Soedjono Magelang.</p> <p><strong>Metode</strong>: metode studi kasus tunggal dengan pengumpulan data melalui anamnesis, asesmen, dan manajemen fisioterapi. Intervensi yang diberikan berupa Infrared (IR), TENS, dan terapi latihan mirror exercise.</p> <p><strong>Hasil</strong> Setelah dilakukan 6 kali terapi didapatkan hasil adanya peningkatan emampuan fungsional pada posisi diam T0=6 menjadi T6=20,mengerutkan dahi T0=3 menjadi T6=7, menutup mataT0=21menjadi T6=30,tersenyum T0=9 menjadi T6=21,bersiul T0=3 menjadi T6=10. Adanya peningkatan nilai kekuatan otot pada M. frontalisT0=1 menjadi T6=3, M corrugator supercili T0=1 menjadi T6=3, Mprocerus T0=1 menjadi T6=3, M orbicularis oris T0=3 menjadi T6=5, M nasalis T0=3 menjadi T6=5, M.depressorangulioris T0:3 menjadiT6=5,Mzygomaticummayor T0=3 menjadi T6=5,Mplatysma T0=3 menjadi T6=5, Morbicularis oris T0=3 menjadi T6=5, Mbuccinators T0=1 menjadi T6=3, M mentalis T0=1menjadiT6=5,Mdepressorlabii inferiorT0=3 menjadi T6=5</p> <p><strong>Kesimpulan: </strong>Setelah dilakukan intervensi fisioterapi sebanyak 6 kali terapi didapatkan hasil terdapat peningkatan kemampuan fungsional, terdapat peningkatan nilai kekuatan otot, dan terdapat penurunan spasme otot.</p>Muhammad Fatihul HudaZuyina LuklukaningsihRima Yunitasari
Copyright (c) 2026 Muhammad Fatihul Huda, Zuyina Luklukaningsih, Rima Yunitasari
https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0
2026-06-192026-06-19111606810.51544/jmkm.v11i1.6208PENATALAKSANAAN FISIOTERAPI PADA KASUS CERVICAL ROOT SYNDROME MENGGUNAKAN MODALITAS TENS MWD DAN TERAPI LATIHAN
https://e-journal.sari-mutiara.ac.id/index.php/JMKM/article/view/6206
<p><strong>Latar belakang</strong>: <em>Cervical Root Syndrome</em> kondisi tubuh posisi abnormal akibat tekanan pada akar saraf serviks akibat trauma pada diskus intervertebralis di leher. Faktornya peradangan,cedera,<em>osteoartritis</em>, gangguan nyeri myofascial,spasme dan proses degeneratif. Prevalensi penderita 16,6% orang berumur mengalami ketidaknyamanan di leher pertahun, dengan sebagian besar kasus terjadi pada wanita.</p> <p><strong>Tujuan</strong>: untuk memberikan informasi efektif transcutaneus electrical nerve stimulation, microwave diathermy, dan terapi latihan dalam mengurangi intensitas sakit, meningkatkan lingkup gerak sendi, daya tahan otot, serta memperbaiki aktivitas fungsional.</p> <p><strong>Metode</strong>: Metode yang diaplikasikan pada penelitian ini adalah studi kasus. Data pasien didapatkan melewati anamnesis,pemeriksaan fisioterapi,serta penatalaksanaan fisioterapi dipoli rehabilitasi RSUD Salatiga.Informasi didapatkan dari pasien poli fisioterapi.</p> <p><strong>Hasil</strong>: Hasil evaluasi menunjukan adanya perubahan intensitas sakit, peningkatan daya tahan otot,peningkatan lingkup gerak sendi, serta perubahan dalam aktivitas fungsional.</p> <p><strong>Kesimpulan: </strong>Setelah dilakukan 6 kali terapi dengan modalitas <em>Transcutaneus Electrical Nerve Stimulation</em>,<em>Microwave Diathermy</em> dan Terapi Latihan menunjukkan perubahan intensitas sakit,peningkatan daya tahan otot,peningkatan lingkup gerak sendi, serta perubahan dalam aktivitas fungsional</p>Annisa Adi PramestiZuyina LuklukaningsihRima Yunitasari
Copyright (c) 2026 Annisa Adi Pramesti, Zuyina Luklukaningsih, Rima Yunitasari
https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0
2026-06-192026-06-19111697710.51544/jmkm.v11i1.6206PENATALAKSANAAN FISIOTERAPI PASCA REKONSTRUKSI PCL SINISTRA DENGAN TENS INFRARED DAN TERAPI LATIHAN
https://e-journal.sari-mutiara.ac.id/index.php/JMKM/article/view/6207
<p><strong>Latar belakang</strong>: Pasca rekonstruksi PCL merupakan rehabilitatif pascaoperasi pada cedera PCL yang bertujuan mengembalikan fungsi sendi lutut. Setelah operasi, pasien memerlukan penatalaksanaan fisioterapi pada fase awal rehabilitasi untuk membantu mengurangi nyeri, mengurangi keterbatasan gerak, serta meningkatkan fungsi lutut secara bertahap agar pemulihan berlangsung optimal.</p> <p><strong>Tujuan</strong>: untuk mendeskripsikan penatalaksanaan fisioterapi pasca rekonstruksi pcl sinistra dengan TENS, Infrared, dan terapi latihan.</p> <p><strong>Metode</strong>: Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah studi kasus dengan pengumpulan data melalui anamnesis, pemeriksaan, dan pelaksanaan fisioterapi.</p> <p><strong>Hasil</strong>: Hasil menunjukkan setelah 6 kali terapi terjadi perbaikan. Nilai kekuatan otot fleksor meningkat T0: 2 menjadi T6: 3, sedangkan otot ekstensor T0: 3 menjadi T6: 4. Rentang luas gerak sendi meningkat dari S: 0°–0°–70° menjadi 0°–0°–100°. Nyeri juga mengalami penurunan, yaitu nyeri saat posisi diam T0: 5 menjadi T6: 2, nyeri saat ditekan 7 menjadi 4, dan nyeri saat bergerak dari 8 menjadi 5. Kemampuan fungsional meningkat dari 13,4% gangguan berat menjadi 61,5% gangguan ringan.</p> <p><strong>Kesimpulan: </strong>kombinasi TENS, Infrared, dan terapi latihan pada pasien pasca rekonstruksi PCL dapat memberi manfaat untuk meningkatnya nilai kekuatan otot, meningkatkan gerak sendi, mengurangi nyeri, serta memperbaiki kemampuan aktivitas fungsional</p>Naufal Luthfi Kurniawan`Zuyina LuklukaningsihRima Yunitasari
Copyright (c) 2026 Naufal Luthfi Kurniawan, Zuyina Luklukaningsih, Rima Yunitasari
https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0
2026-06-192026-06-19111789010.51544/jmkm.v11i1.6207PENATALAKSANAAN FISIOTERAPI PADA POST IMMOBILISASI GIPS FRAKTUR SUPRACONDYLAR HUMERI SINISTRA DENGAN TENS INFRARED DAN EXERCISE
https://e-journal.sari-mutiara.ac.id/index.php/JMKM/article/view/6205
<p><strong>Latar belakang</strong>: Kasus patah tulang selangka bawah (fraktur supracondylar humeri) sering dijumpai pada pasien anak, khususnya laki-laki (60%) dibandingkan perempuan (40%). Rentang usia 4 sampai 10 tahun menjadi periode paling rentan karena tulang masih dalam fase pertumbuhan (osifikasi). Untuk memulihkan kondisi ini, pemasangan gips pasca-reduksi menjadi opsi penanganan non-bedah yang utama demi menjaga posisi tulang tetap stabil.</p> <p><strong>Tujuan</strong>: bertujuan untuk mengetahui bagaimana penatalaksanaan fisioterapi pada post imobilisasi gips akibat fraktur supracondylar humeri sinistra.</p> <p><strong>Metode</strong>: Metode dirancang dengan metode studi kasus di Klinik GFRR Karanganyar, yang berlangsung sejak Desember 2025 sampai Januari 2026.</p> <p><strong>Hasil</strong>: Setelah diberikan intervensi sebanyak 6 kali, terdapat perubahan pada. Keluhan nyeri berkurang, meliputi nyeri diam T1=2 menjadi T6=1, nyeri tekan T1=4 menjadi T6=2, dan nyeri gerak T1=5 menjadi T6=2. Fleksibilitas sendi membaik dengan peningkatan lingkup gerak dari T1=S=0°-0-110° menjadi T6=S=0°-0-135°. Kekuatan otot juga meningkat, baik pada kelompok otot fleksor T1=4 menjadi T6=5 maupun ekstensor T1=4 menjadi T6=5. Kondisi ini didukung oleh peningkatan kemampuan fungsional dengan Shoulder Pain and Disability Index (SPADI) dari 37% menjadi 19%.</p> <p><strong>Kesimpulan: </strong>Setelah dilakukan 6 kali intervesi fisioterapi, didapatkan hasil adanya penurun nyeri, peningkatan lingkup gerak sendi, adanya peningkatan kekuatan otot serta adanya peningkatan kemampuan fungsional</p> <p> </p>Wisnu CandraRima YunitasariZuyina Luklukaningsih
Copyright (c) 2026 Wisnu Candra, Rima Yunitasari, Zuyina Luklukaningsih
https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0
2026-06-192026-06-191119110210.51544/jmkm.v11i1.6205FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KEJADIAN DIARE PADA ANAK USIA SEKOLAH (6–12 TAHUN) DI PUSKESMAS BATOH KOTA BANDA ACEH
https://e-journal.sari-mutiara.ac.id/index.php/JMKM/article/view/6209
<p><strong>Latar belakang</strong>: Diare masih menjadi masalah kesehatan masyarakat yang signifikan, terutama pada anak usia sekolah di negara berkembang seperti Indonesia. Puskesmas Batoh, kasus meningkat dari 250 pada 2023 menjadi 258 pada 2024. Kejadian diare dipengaruhi oleh kebersihan pribadi, sanitasi lingkungan, dan pengetahuan ibu.</p> <p><strong>Tujuan</strong>: untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian diare pada anak usia sekolah (6–12 tahun) di wilayah kerja Puskesmas Batoh Kota Banda Aceh.</p> <p><strong>Metode</strong>: Penelitian ini menggunakan desain case control dengan jumlah sampel sebanyak 68 responden yang terdiri dari 34 kasus dan 34 kontrol. Teknik total sampling. Data dikumpulkan melalui wawancara menggunakan kuesioner. Analisis data menggunakan chi-square dan regresi linier berganda.</p> <p><strong>Hasil</strong>: analisis multivariat menunjukkan bahwa variabel sanitasi lingkungan berpengaruh signifikan terhadap kejadian diare (p-value = 0,005; OR = 8,046), sedangkan variabel personal hygiene (p-value = 0,071; OR = 3,689) dan pengetahuan ibu (p-value = 0,056; OR = 3,897) tidak berpengaruh signifikan setelah dikontrol bersama variabel lainnya.</p> <p><strong>Kesimpulan: </strong>sanitasi lingkungan merupakan faktor yang paling dominan terhadap kejadian diare pada anak usia sekolah (6–12 tahun).</p>Devi Satul HajarTahara Dilla SantiDharina Baharuddin
Copyright (c) 2026 Devi Satul Hajar, Tahara Dilla Santi, Dharina Baharuddin
https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0
2026-06-222026-06-2211110311410.51544/jmkm.v11i1.6209